Dari Sisi Aku
Suatu kejadian pasti ada penyebabnya, entah itu hanya berupa bara kecil atau api yang besar pasti menimbulkan asap pada akhirnya. Dan bara kecil sekalipun, jika di kipasi dari kiri, kanan, depan dan belakang bisa jadi akan membesar. Cukup sekian intronya.
Jadi inti dari semua basa-basi di atas adalah bagaimana cara kita meminimalisir masalah dalam suatu hubungan, secara kita nggak hidup di pulau terpencil hanya berdua saja dengan partner. Kita hidup di tengah orang-orang yang berbagai macam sifatnya. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang menawarkan jaringan pertemanan lewat dunia maya. Dunia makin tak terbatas.
Sekalipun kita sudah menancapkan jejak yang jelas, kadang beberapa orang tak mau tau atau pura-pura tak tau. Mengandalkan ego, mencoba mungkin tak ada salahnya, itu mungkin yang dipikirkan oleh pihak-pihak di luar hubungan yang berusaha menghapus jejak kita di perjalanan partner. Sebelum janur kuning melengkung, kesempatan masih terbuka lebar. Apalagi di sini, hubungan lesbian yang tidak mengenal janur kuning.
Aku mencoba mengkaji hal ini dari 3 sisi yang berbeda. Katakanlah pihak pertama adalah pihak yang merasa mulai gerah dengan pihak ketiga yang berusaha masuk di hubungannya dengan partner. Bagaimana harusnya bersikap jika kita berada di posisi ini? Yang terpenting adalah menanamkan kepercayaan pada partner. Jangan biarkan kehadiran pihak ketiga merusak moment berdua dengan partner. Jujur dan terbuka dengan partner, dalam artian, kalo kita mulai nggak ngerasa nyaman, wajar kok kita ngungkapin hal itu ke partner. Diomongin bareng, mencari jalan tengah yang terbaik buat semuanya. Berbanggalah! Kenapa harus bangga? Hey...partner kita diminati oleh banyak orang! Dan kitalah yang dipilihnya. Sebuah point plus.
Pihak kedua adalah partner pihak pertama. Jika kita di posisi ini, kadang kala kita merasakan pihak pertama terlalu cemas dengan kehadiran pihak ketiga. Percayalah, kecemasannya itu menunjukkan dia peduli pada kita. Tak ingin kehilangan kita. Cobalah tanamkan kepercayaan padanya bahwa hanya dia yang kita cinta. Dan jika dia sudah percaya, kita tinggal menjaga kepercayaannya tersebut. Minimalisir tindakan yang bisa mengundang pihak ketiga untuk bertindak lebih jauh. Mungkin niat kita ramah tamah dan nggak ingin menyakiti perasaan orang lain, tapi seperti yang aku ungkap di atas, kita berada di antara orang-orang yang berlainan sifat, berlainan tingkat emosionalnya. Kadang maksud baik kita tadi bisa di artikan lain oleh pihak ketiga. Merasa di beri angin, pihak ketiga mulai melakukan menyiapkan peralatan perangnya. Sedikit celah yang dibuka dipandang sebagai kesempatan yang tak bisa disia-siakan. Bukan berarti kita nggak boleh beramah tamah, tapi mungkin kita bisa merubah caranya. Seperti kata pepatah, ada asap ada api.
Mungkin kita pernah berada di posisi pihak ketiga. Tertarik pada orang yang sudah mencintai orang lain. Tak ada salahnya tertarik, tapi sebelum bertindak lebih jauh coba kita menempatkan diri kita di posisi pihak pertama. Apa kita bisa bersikap cool kalo hubungan dengan partner kita mulai diusik? Memang masalah hati kadang susah di kendalikan, dan meski banyak yang bilang masih banyak ikan di lautan, tapi kalo udah namanya suka mau di apakan lagi. Tapi, hubungan yang dimulai dengan nggak menyakiti perasaan siapapun akan lebih baik. Berbesar hatilah jika memang dia lebih mencintai partnernya. And move on gals! Mungkin ada pintu lain yang menunggu kehadiran kita.
Jadi Rie, kamu ada di posisi pihak pertama, kedua, atau ketiga? Jiaaaaaahahahaha...aku pernah berada di ketiga posisi itu. Ya...inilah kehidupan! Halah...







