bagaimana bisa aku menuliskan puisi untukmu, sedangkan kaulah aksara itu, yang teruntai dari rinai gerimis, meliuk gemulai antara waktu yang mulai menua, masihkah aku harus menggores pena, sedangkan kaulah nyanyian yang membumbung bersama awan di musim cinta
kekasihku, sungguh jariku menuntun resah saat keakuanku menjadi kuasamu, sungguh kalbuku mendebar saat membayang rautmu, sungguh berkelukur hatiku saat merindu hadirmu, jadi bagaimana bisa aku menuliskan puisi untukmu...
