23.10.11

Nyatanya... Akulah Yang Bersalah

Ya... bukan dia. Seperti yang orang-orang tudingkan. Akulah satu-satunya yang harus duduk di kursi pesakitan itu. Kursi terdakwa. Dan bukan lah hina jika aku mengakuinya. Maaf. Hanya itu yang aku bisa. Setidaknya untuk saat ini. Maaf. Sekalipun kata itu mungkin tak berguna. Setidaknya aku tidak akan lari dari semua kesalahanku. Bukan karena aku bangga dengan kesalahanku. Tapi memungkiri kesalahan juga bukanlah tindakan yang terpuji bukan? Aku lah yang bersalah. Ya... bukan dia.
Kesalahanku menempatkanmu dalam posisi itu. Maaf... Bukankah memang manusia tidak ada yang sempurna. Pun aku. Jadi maafkan akan ketidaksempurnaanku sebagai seorang manusia. Entah sampai kapan hukumanmu berlanjut, sampai orang yang menyakitimu merasa tersakiti? Jika memang mata di balas mata... lakukanlah. Padaku... bukan dia. Karena nyatanya akulah yang bersalah.